Kamis, 24 November 2011

BATAM, SESUATU YANG TAK INDAH UNTUK DIBAYANGKAN

Menyimak beberapa info baik dari detik.com atau dari beberapa info dari teman-teman mengenai kondisi Batam saat ini yang tengah dalam konflik yang cukup meresahkan Masyarakat di Batam

Dimana Para Buruh merasa tidak puas dengan kenaikan gaji yang ditetapkan Pemerintah Kota Batam yaitu dengan kenaikan UMR menjadi Rp. 1,2 juta. Para Buruh melalui serikat pekerjanya menuntut kenaikan UMR menjadi Rp. 1,7 juta karena para buruh beranggapan bahwa harga itulah yang cukup layak untuk hidup di Batam.

Saat ini karena ketidak cocokan dan tanpa ada dialog antara Pemerintah Kota Batam dan perwakilan serikat buruh menjadikan Batam seolah-olah mencekam dan mengkhawatirkan. Saya dapat info rambu-rambu lalu lintas baik itu dipersimpangan jalan ataupun dimana saja sudah banyak yang tidak berfungsi lagi karena telah dirusak oleh pendemo. Dan banyak lagi berita duka yang di yang terjadi di Batam saat ini baik itu kerusakan parah kantor walikota Batam, kerusakan pos-pos polisi, terbakarnya beberapa mobil milik pemerintah dan lain-lain bahkan khabarnya sudah ada korban yang terkena peluru karet. Sunggung ironis apa yang terjadi di kota Batam saat ini.
Mudah-mudahan semua itu segera berakhir dan kondisi Batam semakin kondusif dan kembali bisa berproduksi dan beraktifitas kembali.

Kalau diingat 15 tahun yang lalu semasa aku baru tamat kuliah, Batam adalah kota tujuan utama pencari kerja setelah Jakarta. Banyak orang beradu nasib ke Batam untuk mencari penghidupan yang layak dimana disana banyak terdapat perusahaan electronik, perusahaan fabricator dan perusahaan lainnya yang memberikan banyak lapangan pekerjaan. Malah dulu bisa dikatakan Batam adalah surga bagi pencari kerja karena penghasilan yang didapatkan bisa untuk ditabung dan untuk dikirim ke kampung halaman. Malah dulu, penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki karena pesatnya pertumbuhan industri/manufacturer pada masa itu. Dan aku berpendapat pada masa itu kerja di batam mudah dan gaji besar. Tapi waktu itu aku belum sempat kerja di Batam keburu aku terbang ke Bontang Kalimantan untuk kerja di Project LNG di PT. Badak NGL Co.

Tapi tahun 2009 aku datang ke Batam untuk inteview di salah satu perusahaan pabrikasi di Batam dan posisinya adalah Piping Engineer. Jadi aku berangkatlah ke Batam karena berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan tentunya gaji besar yang kuharapkan bila bergabung di sana. Tapi setelah melewati proses interview akhirnya aku tak mendapat khabar lagi apa hasil interview tersebut. Padahal untuk menjangkau ke Batam, saya harus cuti, harus sewa hotel dan harus beli tiket pesawat dan semua ditanggung oleh saya sendiri tapi nampaknya apa yang saya lakukan tidaklah seperti yang saya harapkan. Tapi aku merasa ada kemungkinan gagal karena permintaan gajiku yang terlalu tinggi untuk bidang pabrikasi karena aku minta gaji sekitar 15 juta karena aku mengganggap itu wajar untuk posisi yang kulamar. Tapi ternyata aku salah.

Rupanya gaji tersebut terlalu tinggi untuk posisi piping engineer, dan aku terkejut mendengarnya karena gaji seorang piping engineer di company itu sekitar 8 juta dan aku membayangkan bila hidup di Batam dengan gaji seperti itu mau tinggal di mana dan mau makan apa dan mau sekolah dimana anak2ku.
Sedangkan kita ketahui biaya hidup di masa orde reformasi ini di Batam sangat-sangat tinggi, walau dollar turun tapi harga tetap saja naik dan banyak alasan untuk menaikkan harga.

Jadi kalau melihat aksi para buruh menuntut kesejahteraan yang lebih baik di Batam di masa sekarang ini adalah wajar. Bayangkan saja dengan UMR 1,2 juta dengan kehidupan Batam yang seperti itu yach cukup apanya. mungkin kalau berhemat ada kemungkinan bisa nabung gajinya. Dan menurut saya sangatlah wajar bila UMR dinaikkan diatas 1,5 juta atau 1,7 juta sesuai permintaan para Buruh. Atau kalau nggak sanggup menaikkan UMR,  hendaknya harga barang diturunkan misalnya kita beli pecel lele 15 ribu diturunkan menjadi 10 ribu. atau tomyam yang harganya 25 ribu diturunkan di harga 15 ribu.

Kalau saya coba bandingkan pendapatan orang di Kuala Lumpur bila dibandingkan di Batam, biaya hidupnya lebih tinggi di Batam. Dengan alasan menyesuaikan dengan kehidupan orang Singapure. Dan saya heran saja mentang-mentang Singapure dekat dengan Batam, seolah-olah semua harga harus ikut dan menyesuaikan dengan Singapure. Batam yach Batam, Singapure ya Singapure.

Sebenarnya kalau saya melihat peristiwa di Batam itu lebih banyak penyebabnya adalah biaya hidup tinggi, dimana harga barang semakin meningkat, biaya sekolah anak-anak semakin tinggi, biaya transport yang tinggi sedangkan gaji dari tahun ke tahun naiknya hanya 10%  saja. Dnn mudah-mudan kita semua dapat menyadarinya dan dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap nasib para teman-teman kita yang bekerja sebagai karyawan/buruh. Dan setidak-tidaknya pengusaha bisa lebih bijak dalam mencari keuntungan dan memikirkan nasib para buruh.

Mudah-mudahan apa yang terjadi di Batam saat ini bisa menjadikan pembelajaran buat kita para pencari kerja, bahwa Batam bukanlah tempat untuk mencari kerja yang baik lagi, Batam bukanlah tempat untuk bermimpi mencari uang yang banyak untuk dibawa pulang ke kampung halaman lagi, Batam bukanlah tempat untuk ditinggali lagi dan mencari penghidupan yang layak lagi. Karena Batam hanyalah tempat yang berisi harga-harga mahal, gaji kecil dan perbedaan kehidupan antara si kaya dengan si miskin.

Janganlah berharap menginginkan harga barang di Batam seperti di Singapure, Tapi Kwalitasnya, Made in Cina.
Janganlah berharap kehidupan seperti di Singapure tetapi tidak sesuai dengan Kehidupan Masyarakat Indonesia yang mengedepankan norma-norma Agama.
Janganlah berharap Batam adalah surga bagi pengusaha tapi tidak diharapkan para pekerja/buruh yang hidup bagaikan di neraka. 
Tapi berharaplah di Batam ,Harga Barang-barang turun mengesuaikan dengan harga-harga barang di kota-kota Indonesia lainnya, Kehidupan yang normal dan Surga akan kembali di Kota Batam, apabila semua pihak menyadari kekeliruannya, menyadari kekhilafannya, memahami permasalahannya dan mengakui bahwa kehidupan tidaklah baik bila selalu mengedepankan sifat-sifat manusia yang dimiliki manusia.

Mudah-mudahan dengan kejadian seperti di Batam tidak terulang kembali. Dan berharap Pemerintah Kota Batam dapat menurunkan harga-harga barang di Batam, Berharap Pemerintah kota Batam hendaknya lebih Peka dengan kondisi masyarakat Batam Sekarang. Mengedepankan dialog dan mengedepankan sosial kemasyarakatan untuk peningkatan tarap hidup masyarakat Batam umumnya.

Mudah-mudahan Batam kembali normal dan pekerja/buruh dapat bekerja kembali dengan senyum di wajahnya serta banyak project lagi yang di kerjakan di Batam termasuk fabrikasi yard, di bidang manufacturer, di bidang electronik sehingga para buruh/ pekerja dapat meningkatkan taraf hidup mereka kembali dengan penyesuaian UMR yang sesuai untuk kehidupan buruh yang tinggal di Batam pada umumnya.

Salam, 25 November 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar