Jumat, 09 Maret 2012

HILANGNYA SEBUAH HARAPAN BARU UNTUK SEPAKBOLA INDONESIA

                                                                                                                                                       

Sesaat gua tertegun melihat kekalahan team Indonesia daru Brunei Darusalam di ajang Piala Sultan Brunei dengan scor 2 - 0 untuk keunggulan team dari Brunei. Dan gol-gol itu sungguh menyesakkan dan terjadi di babak ke dua. Pupus sudah harapan Indonesia untuk meraih gelar di kawasan ASEAN dan kegagalan ini melengkapi bobroknya kepengurusan PSSI sekarang ini.

Team Brunei sebenarnya tidak-tidak bagus sangat saat memainkan sepakbola terbukti di babak pertama mereka belum mampu mencetak gol dan bermain bertahan mengandalkan serangan balik. Dan terbukti team Sepakbola Indonesia nampaknya masih menganggap remeh kesebelasan sepakbola Brunei karena mampu menguasai bola lebih banyak di babak pertama walaupun tidak mencetak gol. banyak pemain Indonesia bermain tanpa arah sehingga bola-bolanya nggak jelas arahnya. Memang Andik Firmansyah bermain sangat baik malam itu tapi pemain lainnya masih jauh dibawah kwalitas Andik Firmansyah. Indonesia selalu gagal dipenyelesaian akhir dalam mencetak gol. Itu yang menyebabkan team nas Indonesia kalah melawan Brunei.

Saya kadang tak mengerti apa sebenarnya di cari oleh Pengurus PSSI sekarang ini, keegoisan atau prestasi, kadang PSSI tidak merasa malu dengan apa yang terjadi di ajang FIFA dimana Indonesia kalah 10 - 0 lawan Bahrain. Harusnya pengurus PSSI harus bisa lebih arif dan bijaksana mensikapi 2 buah kompetisi yang berbeda ini.

Kadang aku ingin tertawa geli mensikapi PSSI yang dipimpin oleh Johar dimana dulunya begitu berapi -api ingin naik jadi pengurus PSSI mengantikan Nurdin Halid tapi setelah terpilih mulai nampak otoriter yang tidak membolehkan pemain-pemain terbaik di Indonesia masuk ke Timnas karena kompetisi yang mereka ikuti tidak direstui oleh PSSI Johar.

Saya lebih setuju dengan apa yang dilakukan oleh Kerajaan Brunei yang meninterverensi PSSI mereka demi tercapainya kemajuan sepakbola mereka dan terbukti saat ini Timnas Brunei bisa menjuarai Piala Sultan Brunei dengan mengalahkan Indonesia dengan scror 2- 0. Saya lebih cenderung setuju bila PSSI bisa ditata ulang kembali dan mulai dibenahi sistem kompetisinya dan pembinaannya yang lebih baik.

Tapi nampaknya Pemerintah Indonesia takut dengan PSSI karena bila ada interensi dari Pemerintah sepakbola Indonesia akan dibekukan sementara  karena takut dengan sangsi FIFA. Saya sebagai Rakyat Indonesia dan pencinta sepakbola Nasional dan Team Nasional Indonesia bisa memahami bilamana Sepakbola Indonesia terkena sangsi dari FIFA. Toh kompetisi dalam negeri masih bisa jalan terus sambil membenahi system management sepakbola Indonesia agar lebih baik lagi dari kondisi sekarang ini.
Ada baiknya kita mengambil contoh Kerajaan Brunei demi tercapainya sepakbola Indonesia yang mempunyai nilai lebih dan menghasilkan sejarah baru dalam persepaakbolaan di Indonesia.

Saya rasa belum 1 tahun , PSSI dibawah kepemimpinan Johar tapi setidak-tidaknya sudah 2 sejarah baru telah tercipta yaitu :
1. Kalah 10 - 0 dari Kesebelasan Sepakbola Bahrain yang menyebabkan kemungkinan Indonesia bisa turun peringkat FIFA. Dan ini sejarah baru buat sepakbola Indonesia.
2. Kalau 2 - 0 dari  Kesebelasan Sepakbola Brunei yang menyebabkan kemungkinan Indonesia bisa turun lebih dalam dalam peringkat FIFA. Dan ini sejarah baru buat Sepakbola Indonesia yang mana selalu menang melawan kesebelasan Sepakbola Brunei.

Dan saya nggak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya dan rekor-rekor apa yang bakal terjadi bila PSSI masih di bawah kepemimpinan Pak Johar. Kenapa PSSI sekarang lebih arogan , lebih naif dan lebih mengedepankan kepentingan kelompok daripada kepentingan Nasional.
Kalau memang tak sanggup membenahi Sepakbola Indonesia dan memaksakan caranya sendiri untuk mengatasi pembinaan Sepakbola Indonesia ada baiknya PSSI sekarang mundur dan digantikan dengan 
Pengurus PSSI yang baru yang lebih nasionalis dan punya niat baik memajukan Sepakbola Indonesia.
Atau bila pengurus sekarang masih ingin duduk di PSSI, hendaknya tepa seliro, tenggang rasa dan lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat tapi bukan musyawarah untuk memaksakan kepentingan dan egoisme pengurus sekarang ini.  

Karena kita Indonesia sudah merdeka dan tidak ada lagi cara-cara pemaksaan kehendak, pengancaman, tebang pilih  dan pemaksaan di dalam suatu organisasi apalagi sifatnya menghimpun banyak orang dan punya kepentingan. Orang Indonesia sekarang sudah sangat cerdas dan sudah mengerti mana yang bisa mereka ikut dan mana yang tidak bisa mereka ikut. Jadi ada baiknya pengurus PSSI sekarang  lebih sabar, dan tepa seliro dan memahami arti perbedaan dan bukanlah uang semata yang mengatur manusia. mau tiga kompetisi atau empat kompetisi di Indonesia yang penting sepakbola Indonesia maju dan berkembang serta mampu berkiprah dan menjuarai ajang kompetisi di Asia Tenggara sebelum ke ajang Piala Dunia.

Kemaren waktu saya sholat Jum'at di Masjid. Penkotbah mengatakan "kalau orang yang tidak punya rasa malu berarti orang itu tak punya iman."  Saya bukan mengatakan bahwa pengurus PSSI sekarang ini tidak punya Iman tapi tidak punya rasa malu, dan egoisme, sifat sombong serta keangkuhan yang mulai mengores-gores rasa keimanannya dan hati nurani. Insya Allah bila punya niat Ikhlas dan Sabar membina sepakbola Indonesia rasa keimanan yang utuh bisa dimiliki oleh pengurus PSSI sekarang.

Tapi bila masih saja bersifat seperti itu dengan pemaksaan kehendak dan lain-lain, hilanglah harapan saya untuk kebangkitan Sepakbola Indonesia yang kearah lebih baik dan lebih baik lagi.


Salam Sepakbola Indonesia.

Pekanbaru, 10 Maret 2012.



                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar