Minggu, 15 Januari 2012

UNGKAPAN UNTUK ISTRI TERCINTA..


Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah  sejenak.
Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani  bayi Anda.
Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat  kepenatan
karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk  istirah
barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang  membasahi wajah
itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah  tak ada
lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda  sudah bisa
merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda  barangkali
belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara  anak-anak
sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya,  membisingkan
telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan  pipis tak
habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis  lagi.
Padahal tangan istri Anda pula yang harus  mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia?  Masihkah
Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa  berbicara lembut
kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng  sementara di
saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang  penuh
perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata  serta tulus
dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam  menjalani apa
yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap  sebagai
kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang  seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan  lembut? Tentu
saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita  membentak
anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin  mengajak
Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara  kita tak
pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak  sabar. begitu
pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung  memperoleh
kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan  emosinya akan
menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba  membuat
anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin  sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh  bermanja-
manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng.  Tetapi istri
shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia  juga
butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda.  Sementara gejolak-
gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau  mendengar.
Kalau kegelisahan jiwanya tak perna menemukan muaranya  berupa
kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda  akui
keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa  kecuali
dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri  kita yang
suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah  mengalami
situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya  meledak-
ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan  semata
karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya  diam
menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya  untuk
mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika  kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam  mengasuh, maka
bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain.  Ada
kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak  dingin, apalagi
beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada  penerimaan yang
perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan  bundanya
sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan  kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan  pikirannya,
agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada  anak-anak
kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah  menuntut, tetapi
mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.  Karenanya,
marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika  perjalanan
waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda  yang
terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah  yang bisa
kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau  menyatakan
sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa  kata. Dan
sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya.  Tubuh yang
letih itu, alangkah bersemangatnya jika disaat bangun nanti  ada
secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh  gula dan
satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya  telah
terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku.  Perlukah aku
hantarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan.  Mungkin
sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk  anak-anak, mungkin
juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat  kita. Kalau
kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak,  atau
menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan  karena
gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah.  Sebab
selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang  kita
lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat  berjumpa
dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang  ingin Anda
lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya,  baik
lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan  bahwa dialah
yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan  terima-
kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua  kelopaknya.
Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya,  tak ada
lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal  karena
merasa tak didengar.

Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan  kepadanya, kelak
istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda  'Aisyah
radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah  Saw., "Ah,
semua perilakunya menakjubkan bagiku."
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring  letih, sesudah
engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka  biarkanlah ia
sejenak untuk meneruskan istirahnya. Hembusan udara dingin  yang
mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai  selimut
untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta  yang tak
lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki  yang mulia,
sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang  mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah  kita ingat
kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita.  "Wahai
manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas  kalian
sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka.  Ketahuilah,"kata
Rasulullah Saw.
melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah  dari Allah,
dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. 

Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan  atas
kalian untuk selalu berbuat baik. " Kita telah mengambil  istri kita
sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan  kepadaAllah
Taala bagairnana kita menunaikan amanah dari-Nya kah  kita
mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat  rnenggerogoti
wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah,  kita sempat
tercatat selalu berbuat baik bentuk istri, Saya tidak  tahu.
sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya  sudah
cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di  mata
istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar  memaafkan
kekurangan saya sebagai suami. indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima
apa
adanya. Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan  untuknya.

Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk  istri Anda.

NOTED : 
DIAMBIL DARI CERITA YANG ADA DI WEB TEMAN.. Tapi karena bagus jadi dicopy dan kumasukkan ke dalam blog ini. Dan bila kurang berkenan akan di delete dari blog ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar