Sabtu, 30 April 2011

BUNGA LANGSI DALAM ACARA ADAT MENGARAK PENGANTIN

Bunga Langsi sangat penting artinya dalam acara adat perkawinan orang Palembang atau istilahnya acara Munggah. Tanpa diserahakan Bunga langsi , ada harapan pengantin laki-laki ditolak untuk masuk rumah. Inilah suatu bagian dari upacara adat mengarak pengantin di Kota Palembang. dimana ini berlaku khusus bagi penduduk asli. Alias Orang Melayu Palembang

Bunga Langsi kebanyakan dan biasanya dipergunakan ialah bunga-bungan yangterbuat daru kertas aneka warna. Sekarang banyak dibuat dari pelastik. Yang bunga itu ditaruh dalam sebuah vas. Terserah dari apa saja. Benda ini dibawa dari rumah pengantin laki-laki, berbarengan dengan kedataangannya sewaktu untuk pertama kalinya memasuki rumah pengantin perempuan selesai diarak dengan tabuhan-tabuhan rebana, dimana pengantin laki-laki waktu itu memakai adat Penganggon (serba songket)

Sebenarnya Bunga Langsi itu tidak banyak jadi perhatian orang. Terutama orang-orang yang menyaksikan upacara ngarak. Selain bendanya kecil, juga apalah artinya suatu  bunga-bunga kertas. Dan karena dianggap sepele itulah benda ini sering terlupakan. tetapi adat, mengharuskan ikut sertanya benda itu. Tanpa adanya Bungo Langsi, pengantin laki-laki bisa ditolak Dan kalau itu terjadi bayangkan saja bagaimana gelabaknya.

Mungguh ialah acara dimana pengantin laki-laki dengan berpakaian serba songkot diarak dari suatu tempat pada siang hari diiringi serombongan penabuh rebana dengan membawakan Magam (zikir). Seorang pria lain yang berjalan memimpin pengantin laki-laki ini memegang sebuah vas bunga-bunga yang terbuat dari plastik.

Sesampainya di muara pintu rumah pengantin perempuan saatnya untuk para pengantin bersanding pengantin pria disambut oleh pihak sesepuh pengantin wanita untuk diterima dan disandingkan. Dan saat memasuki pintu itulah Bungo Langsi diterima dan disandingkan. Dan saat memasuki pintu itulah Bunga Langsi harus diserahkan kepada pihak penerima tadi. Biasanya acara ini tidak menjadi perhatian orang banyak karena penyerahan itu sendiri tanpa upacara-upacaraan apa-apa kecuali hanya orang yang menyerahkan dan siapa yang harus menerima. tetapi jangan dikira tidak punya arti apa-apa. Sebab pernah seorang pengantin laki-laki harus menunggu dulu beberapa saat dimuka pintu belum diijinkan masuk sebelum diserahkan Bunga Langsi.

Sekarang ini acara ngarak pengantin dengan iringan tabuh rebana dan pengantin laki-laki memakai songket tidak saja dipakai oleh penduduk kota Palembang asli. Penduduk-penduduk yang berasal dari luar kota itu dewasa ini mempergunakan acara seperti itu. Namun tidak lengkap biasanya sebab tanpa Bunga Langsi. Walaupun kadang-kadang perlengkapan -perlengkapan lain tak ketinggalan dan bahkan berlebih-lebihan. Karena yang melakukan hajat dan perkawinan itu bukan penduduk asli Kota Palembang maka tak pernah terjadi pengantin laki-laki harus nunggu karena tak ada Bunga Langsi.

Berbeda dengan peranan Tunggul (Suatu bendera-bendera kecil terbuat daru kertas aneka warna) yang ditaruhkan dalam suatu kotak dan diusung berbarenagn dengan ngarak pengantin.). Tunggul hanya jadi rebutan anak-anak dan tanpa itupun tak apa-apa tetapi biasanya dia tetap jadi perhatian seolah-olah tanpa itu kurang afdol.

Itulah sekelumit mengenia Bunga Langsi dimana Bunga Langsi ini berpengaruh besar terhadap suatu acara pernikahan orang Palembang Asli. Tapi Saya rasa itu adalah adat istiadat orang Melayu..karena saya sewaktu menikah dengan istri saya orang Melayu Medan saya pun mengalami hal yang sama yaitu memegng semacam bunga dan apa yang diceritakan sama persis dengan apa yang saya alami sewaktu menjadi pengantin laki-laki Melayu. Jadi saya berpandangan sepihak bahwa nampaknya acara pernikahan memakai Bunga Langsi adalah acara adat Orang Melayu baik itu melayu Medan, Melayu Palembang , Melayu Riau atau Melayu Semenanjung Malaya.Dan semoga ini bisa menjadi manfaat kita bersama khususnya warga Kota Palembang.

Diambil dari judul cerita "Bungo Langsi Pegang Peranan Penting"
Penulis T, Wakeel Hz.
Kumpulan dalam buku"Penemuan Hari Jadi Kota Palembang"
Diterbitkan Tahun 1975

Kerteh, 1 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar