Selasa, 20 Desember 2011

MELAMUN DALAM ANGAN (THEME OF MENGANTUK II)

Secarik kertas itu aku coba tulis untuk mengungkapkan suatu cerita tentang masa lalu
Tapi kertas itu belum lah tersentuh oleh goresan pena seharga sepuluh ribu rupiah an.
Inspirasi seharusnya hadir dalam pikiranku dan otakku untuk menjadikan kertas itu penuh.
Namun..aku hanya bisa melamun dalam angan semu, apa yang seharusnya aku mau tulis dalam kertas itu.

Melamun Dalam Angan ibarat Nge-Drift dalam kantuk yang tak berujung
Melamun Dalam Angan ibarat Membayangkan sesuatu yang belum tercipta 
Melamun Dalam Angan perumpaan Suatu khayalan yang tak bermakna..
Tapi melamun dalam angan membuat rasa kantuk menjadi semakin bermakna

Kulihat nampaknya secarik kertas itu sudah mulai terisi oleh sesuatu yang tak berwarna
Tapi keberadaan sebuah penah seharga sepuluh ribu rupiah itu masih ada disebelah secarik kertas itu
Kulihat perlahan tapi pasti secarik kertas itu semakin berat, berwarna dan basah
Alamak..rupanya secangkir kopi yang kuminum tadi menjadikan kertas itu berwarna coklat..Dan membuat semua rencanaku untuk menulis sesuatu diatas secarik kertas itu menjadi tak dapat kulaksanakan.

Lenyaplah rasa ingin menulis sesuatu di secarik kertas itu 
Lenyap sudah rasa asa yang terkandung dalam angan untuk diungkapkan dalam secarik kertas itu
Lenyap segala angan yang tersimpan dalam lamunanku 
Lenyap sudah sebuah cerita cinta yang seharusnya kuungkapkan di secarik kertas itu

Akhirnya rasa kantukku telah hilang terhapus oleh sentuhan air kopi panas yang singgah di lenganku
Akhirnya rasa ngedrift tubuhku di siang hari itu hilang sudah.
Akhirnya ada rasa yang timbul dalam hatiku dan dicerna oleh pikiranku dan direspon dengan indah oleh tanganku dan membuatku ingin melakukan sesuatu 
Tapi aku lupa, secarik kertas itu ternyata telah menjadi sesuatu yang tidak indah untuk ditulis.

Itulah cerita mengenai hidup dalam suatu angan 
Itulah sesuatu harapan yang sirna yang terhapus oleh suatu peristiwa yang sesaat 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar