Thursday, May 9, 2019

PANDUAN RAMADHAN 1


1. MARHABAN YA RAMADHAN

Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: "Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan" (Hr. Ahmad)

Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kitamengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk
melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam
Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

2. RAMADHAN BULAN BERKAH

Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firmanNya : "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. 
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (denganDia)." (QS Al Qoshosh [28]:68). Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. 

Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro' yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah : "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." QS Al Baqoroh [2]:185. Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya.

Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya'ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya : "Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu." (HR. Ath Thabrani) Dalam sabdanya yang lain : "Sesungguhnya telah datang padamu
bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya.
Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan." (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

1. Bulan diturunkannya Al Qur-an. Firman Allah : "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak
dan yang bathil)." (QS Al Baqarah [2]:185) Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata : "Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: "Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan." (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da'wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan "yaumul furqon" (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada
apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." QS Al Anfal [8]:41. Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam
sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da'wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa "fathul makkah" terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau
balas dendam.

5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS Al Qadr [97]:1-5) 

6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. "
QS Al Baqarah [2] : 183. Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah
kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

3. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan ( tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini)." ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. "Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat 'Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia
menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini
Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan." (Riwayat Ahmad dan Nasai )

3. "Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi."(H.R.Muslim)

4. "Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur'an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari
Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat." ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda
: bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut "Rayyaan". Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang shaum? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary
Muslim).

KESIMPULAN :
Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya:

1. Bulan Ramadhan adalah:
a. Bulan yang penuh Barakah.
b. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
c. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
d. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
e. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :
a. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
b. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaa't.
c. Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).

4. PANDUAN AMALAN DI BULAN RAMADHAN

Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah
dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur'an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber'itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu : Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr)

Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan.

Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma'iyah adalah sebagai berikut:

Shiyam (puasa)
Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh : 183-187.
Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya" (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari'at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa :
"Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup" (HR At Turmudzi).

c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda : " Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong" (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Rasulullah juga pernah bersabda bahwa : " Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum " (Hr Bukhori dan Muslim).

d. Bersungguh - sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya.
Rasulullah SAW bersabda : " Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah
dilakukan " (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda' al mubarok ). Dalam hal ini 
Rasulullah pernah bersabda bahwa : " Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan
para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur" (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur .

f. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa : " Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. " (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja " (HR. Abu Daud dan Ahmad).

g. Berdo'a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do'a
sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari'atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do'a, sebab do'a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : " Ada tiga kelompok
manusia yang do'anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do'a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka" (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Tilawah (membaca) al Qur'an Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur'an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada
bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur'an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur'an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya
pada bulan Ramadhan.
Imam az Zuhri pernah berkata : " Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur'an". Hal ini tentu saja dilakukan
dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur'an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur'an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29).

Ith'am ath tho'am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya) Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan :
"Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut " (HR. Turmudzi dan an Nasa'i).

Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan
kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai " lebih cepat dari angin " (HR Bukhori ).

Memperhatikan kesehatan. Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian
agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini:
a. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah ibnu Mas'ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan
baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. ( HR. AL Haitsami)

Memperhatikan harmoni keluarga Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang
memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari'atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan
ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i'tikaf, harmoni itu tetap terjaga.

Memperhatikan aktivitas da'wah dan sosial Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da'wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah ( tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9
H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA,
beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa', meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

Qiyam Ramadhan (sholat tarawih) Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah
qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama'ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim).

Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka'at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka'at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka'at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka'at ini
bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi'i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu'minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa informasi tentang jumlah
reka'at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka'at, kadang 21 dan terkadang 23 reka'at pula. Hal demikian itu kembali
juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka'at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka'at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma'ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

I'tikaf.
Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i'tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa'id al Khudlri RA, hal
demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i'tikaf, padahal Rasulullah SAW tak
pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana.

Lailat al Qodr
Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : "Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan
do'a sebagai berikut :

Umroh
Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: "
Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim)

Zakat Fitrah Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin.
(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Ramadhan bulan taubat menuju fithroh Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang Maha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emasagar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah
Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; "Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan". (HR. Ibnu Huzaimah). Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, amin.

KENAPA KITA BERPUASA


Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.
Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:
  1. Puasanya orang-orang sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta
  2. Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam Al-Qur'an, surat Maryam ayat 26 :
    "Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" (Q.S. Maryam :26).
  3. Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa-puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut.
  4. Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam.

HIKMAH PUASA

Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allan swt. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:
"Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa."

Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu". Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur'an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore.

Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan?

Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi'i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah :
"Hari ini adalah hari Asyura', dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya."

Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain: bahwa puasa yang diwajibkan pertamakali atas umat Islam adalah puasa Asyura'. Setelah datang Ramadhan Asyura' dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil hadisnya Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn 'Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura' dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura' beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu 'Amr) juga tidak berpuasa". (H.R. Bukhari).


"Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura' pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura' sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura' silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa". (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura' sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura'), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan manyerukan ke ummatnya untuk melakukan puasa itu.

Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadis Ahaad (hadis yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang). ”Ibn Abbas ra. meriwayatkan: ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura', lalu beliau bertanya: (puasa) apa ini? Mereka menjawab: ini adalah hari Nabi Saleh as., hari di mana Allah swt. memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi saw. berkata: aku lebih berhak atas Musa dari kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa. (HR. Bukhari).

Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura'.

Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-qur'an, Sunnah, dan Ijma.
"Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan."

Kata 'al-haj' (haji) didahulukan sebelum kata 'al-shaum' (puasa), itu menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta. Sedang dalam riwayat lain, kata 'al-shaum' didahulukan, karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) dari pada haji.

Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barang siapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama.

DEFINISI PUASA

Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan firman Allah, surat Maryam ayat 26 :
"Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (Q.S. Maryam : 26)

Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya'ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya'ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw.

"Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru'yat), dan berbukalah dengan berdasar ru'yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya'ban menjadi 30 hari."***


Thursday, March 14, 2019

KIOS KECIL ITU NAMANYA LAJUKELA COFFEE

Tak terbayang olehku memiliki sebuah kios kopi yang menjual kopi-kopi Indonesia. Dan tak terbayang olehku berapa besaran biaya yang harus saya keluarkan untuk membuak kios Kopi tersebut. Tapi kalau tak seperti itu bagaimana lagi saya bisa punya kios kopi.
Dengan luas sekitar 4 M x 2,5 M , kios kopi tersebut berdiri yang tentunya menyewa dari ibu kios dengan bayaran untuk 6 bulan. Walau tidak ada yach harus diada adakan lah.

Konsep Bisnis Pujangga Piping itu biar dikit asal jalan, biar minim hasilnya milyaran

ceritanya Hari Senin, 14 Maret lalu, kios ini mulai membuka diri, walau listrik belum ada tapi semangat penjaga kios membuat kios itu akhirnya berdiri dan berjalan dengan kondisi seadanya. Walau masih mengutang untuk pelunasan sekitar 1 juta lagi dan akan dibayar akhir bulan maret ini setelah gajian. Tapi yach semangat diada adakan masih membahana. akhirnya dibukalah kios kopinya

Walaupun product yang dipajang tidaklah banyak namun cukuplah untuk menyatakan kepada dunia bahwa Lajukela Coffee bisa dijumpai di offline di daerah Jl. Sembilang Rumbai Pekanbaru.

Kopi yang tersedia di sana adalah kopi kopi pilihan dari berbagai daerah di Jawa dan di Sumatera. Tapi untuk sementar kopi Arabika Gayo Aceh masih menguasai etalase yang terpasang, juga ada Kopi Robusta dari Jawa. Dan tentunya kopi asli Riau dan juga sebagai salah satu ciri khas Riau yaitu kopi Liberika Meranti. Kopi yang unik, mempunyai arom buah nangka yang khas dan rasa coklat.


Monday, February 4, 2019

INFO LOWONGAN KERJA WORLEY PARSONS, RAPP DAN LAINNYA

ini info dari online bro..







Kita butuh beberapa tenaga al:
1. Process Eng
2. Rotating Eng/QAQC
3. Static Eng/QAQC
4. Civil Eng/ QAQC
5. Electr Eng/ QAQC
6. Instr Eng/ QAQC
7. HSE Eng
8. Project Control
9. Document Control
10. Welding Inspector
Mohon bisa dibantu pak Supri, tks🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Send cv to priyono@pbasolusi.com

LOWONGAN KERJA TRANS STUDIO CIBUBUR

TRANS STUDIO CIBUBUR, One of Indonesia's Biggest Indoor Theme Park
We are open a mass recruitment for the positions below :
Marcom :
1) Ast. Manager
2) Spv. Graphic Design
3) Sr. Staff Graphic Design
4) Sr. Staff Visual Merchandise
5) Sr. Staff PR & Social Media
HRD :
1) Ast. Manager HR Operation
2) Spv. Training
3) Sr. Staff Recruitment
4) Driver
PROPERTY
1) Spv Electric Genset
2) Spv Plumbing
3) Spv AC
4) Staff Civil
5) Staff Electric Genset
6) Staff Plumbing
7) Staff AC
SHOW PRODUCTION
1) Manager Show Production
2) Ast. Manager Show & Talent
3) Ast. Manager Technical & Facilities
4) Ast. Manager Sekretariat Admin Production
5) Spv. Trainer
6) Spv Producer Director
7) Spv Talen & Unit Officer Scheduling
8) Spv Costum & Maintenance
9) Spv Makeup & Hair Do
10) Spv Lighting
11) Spv Audio
12) Spv Multimedia
13) Spv SFX
14) Staff Artistic Property
15) Staff SFX
16) Staff Show
17) Staff Admin Facilities
FINANCE
1) Ast. Manager IT
2) Spv. Warehouse
3) Spv. Finance
4) Spv. Accounting
5) Spv. IT
6) Sr. Staff Account Payable
7) Sr. Staff Tax
8) Staff Warehouse
9) Staff Account receivable
10) Staff Cashier Contrabon
11) Staff Accounting
12) Staff IT
13) Staff Purchasing
OPERATION
1) Sr. Manager Operation
2) Manager Operation
3) Spv Zona
4) Cast Member
5) Personal Administrator
GUEST SERVICE
1) Manager Guest Service
2) Asst Manager Gst Service
3) Staff Survey
4) Staff Usher
ADMISSION
1) Manager Admission
2) Spv Entry
3) Spv Exit Trunstile
4) Staff Ticketing
5) Staff Locker
6) Staff Enter Turnstile
7) Staff Bag Checker
8) Staff Exit Turnstile
MAINTENANCE RIDES
1) Spv Maintenance
2) Sr. Staff Technician
3) Staff Technician
4) Personal Administrator
HEALTH & SAFETY
1) Ast. Manager
2) Sr. Staff
PARK SERVICE
1) Spv General Service
2) Spv Public Facilities
If you are insterested, please send your cv to : harum.aspariningrum@transstudiomall.com


Friday, February 1, 2019

BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN ORANGTUA DENGAN BAIK

Soal: 
Upaya penghancuran keluarga Muslim telah berhasil menghancurkan nilai-nilai agung dan sakral dalam hubungan anak dan orangtua, yang biasa dikenal dengan birr al-wâlidayn. Lalu, bagaimana sebenarnya batasan dan bentuk-bentuknya? 

 Jawab: 
Secara literal, birr adalah sebutan untuk semua kebaikan, kebalikan dari ‘aqq (jamaknya ‘uqûq); sedangkan mabrûr adalah sebutan untuk birr yang dilakukan. Misalnya haji mabrûr, maksudnya adalah haji yang tidak tercemar dengan dosa sekecil apapun, atau perkara yang diharamkan. 
Karena itu, birr al-wâlidayn dapat didefinisikan sebagai: semua bentuk kebaikan untuk menaati kedua orangtua. Makna “semua bentuk kebaikan untuk menaati keduanya” itu tidak lain adalah dengan melaksanakan seluruh perintahnya dan tidak pernah membantahnya. Sebab, dengan membantahnya akan membuat mereka marah, dan kemarahan mereka menyebabkan kemurkaan Allah. Rasulullah saw. bersabda: 

Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan orangtua, kemurkaan Allah juga bergantung pada kemurkaan orangtua. (HR Ibn Hibban dan al-Hakim). 

Karena itu, hukum birr al-walidayn ini adalah wajib; bahkan termasuk di antara bentuk kewajiban terdepan di antara kewajiban-kewajiban yang lain. Birr al-walidayn ini tentu tidak akan terwujud kalau tidak disertai dengan akhlak yang baik kepada kedua orangtua. Misalnya, ketika berbicara dengan mereka tidak mengeraskan suara melebihi suara mereka; tidak menatap mata, termasuk wajah mereka, tetapi menundukkan muka dan pandangan di hadapan mereka. Ketika melaksanakan keinginan mereka, harus segera, baik diminta atau tidak, apalagi jika diminta oleh mereka; termasuk mengupayakan apa saja yang mereka butuhkan. Jika hendak meninggalkan mereka, tentu tidak akan meninggalkannya, kecuali sepengetahuan mereka. Sebab, kalau semua itu tidak dilakukan, niscaya mereka akan gelisah, cemas, dan khawatir.  

Birr al-wâlidayn merupakan bentuk ketaatan yang bisa membuat kedua orangtua menjadi ridha, hatinya tenang dan bergembira. Karena itu, jika seorang anak melaksanakan perintah orangtuanya, tetapi dengan cara yang tidak membuatnya senang dan puas, maka apa yang dilakukan anak tersebut belum bisa dianggap birr al-wâlidayn. Inilah yang dipahami oleh orang Mukmin generasi awal. Bahkan cucu Nabi, al-Hasan, tidak berani makan di tempat yang sama dengan ibu dan ayahnya, karena khawatir akan mendahului mereka. Uways al-Qarni pun sanggup menggendong ibunya dalam jarak bermil-mil jauhnya, tidak lain karena pengabdiannya kepada orangtuanya. Subhânalâh! 

Semua itu dilakukan dengan sempurna dan indah oleh generasi salaf shâlih karena mereka menyadari, bahwa kedua orangtua itu bisa menjadi surga dan neraka bagi mereka.

1 Mereka juga memahami Hadis Rasulullah saw., bahwa dengan birr al-wâlidayn itu umur dan rezeki mereka di dunia akan ditambah oleh Allah Swt
.2 Birr al-wâlidayn itu juga akan bisa menebus dosa dan kesalahan mereka, bahkan menjadi jaminan mereka masuk surga di akhirat kelak
.3 Bentuk-bentuk birr al-wâlidayn itu bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu ketika orangtua kita masih hidup dan setelah mereka meninggal.  
Pertama, ketika orangtua masih hidup, birr al-wâlidayn ini harus didahulukan ketimbang melakukan fardu kifayah. Sebab, birr al-wâlidayn ini hukumnya fardu ‘ain. Karena itu, birr alwâlidayn harus didahulukan ketimbang pergi berjihad;
4 bahkan harus didahulukan ketimbang fardu ‘ain yang lain, seperti berhaji
5 atau memenuhi hak istri dan anak;
6 apalagi terhadap perkara sunnah ataupun mubah.  
Namun demikian, meski sedemikian besar keharusan taat kepada mereka, tetap tidak boleh menaati keduanya dalam perkara maksiat; meskipun pada saat yang sama tetap wajib bersikap baik kepada mereka.
7  Jika mereka masih hidup maka kita wajib melayani dan merawat mereka.
8 Apabila keduanya memberikan perintah yang berbeda, perintah ibulah yang harus didahulukan. Setelah itu, baru perintah ayah.
9 Kalau mereka mempunyai tanggungan, kita wajib membebaskan tanggungan mereka.
10 Begitu juga ketika mereka mempunyai nadzar, kita pun berkewajiban untuk menunaikannya.
11 Jika mereka akhirnya tidak berkesempatan naik haji, kita pun harus menghajikan mereka.
12 Bukan hanya itu, Rasulullah saw. juga mengajari kita, sebagaimana dituturkan Abdullah bin Amr, dengan sabdanya:  

Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah). 
Hubungan anak dan kedua orangtuanya juga harus senantiasa dibalut dengan doa;

13 anak harus senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, dan orangtua juga harus senantiasa mendoakan anak-anaknya. Menjadi kebanggaan orangtua jika seorang anak menisbatkan namanya kepada orangtuanya, apalagi jika anaknya berhasil dan menjadi tokoh ternama. Itu akan menjadi kebanggaan dan sanjungan bagi orangtuanya. Karena itu, tidak boleh seorang anak menisbatkan namanya kepada orang lain, selain kepada orangtuanya.

14 Pada saat yang sama, anak pun tidak boleh mencemooh, atau mengolok-olok kedua orangtuanya
15 betapapun bodoh dan kesalahan mereka.  

Jika berjauhan dengan mereka, kita pun wajib menyambung silaturahmi dengan mereka, baik dengan menelpon mereka, mengirim surat kepada mereka, ataupun yang lainnya. Semua itu tidak lain untuk menjaga ketenangan hati mereka. Inilah bentuk-bentuk ketaatan kepada kedua orangtua selama mereka masih hidup.  

Kedua, jika salah seorang di antara mereka, ataupun keduanya telah meninggal dunia, maka Islam telah mengajarkan bentuk-bentuk ketaatan tersebut, antara lain: 

1. Menunaikan wasiat dan memenuhi janji mereka; 
2.    Mendoakan dan memintakan ampunan untuk mereka; 
3.    Menyambung hubungan dengan mereka, antara lain, dengan menyambung hubungan    mereka dengan teman-teman mereka; 
4.    Bersedekah atas nama mereka dan untuk mereka; 
5.    Menunaikan ibadah haji atas nama dan untuk mereka; 
6.    Bergegas melakukan amal salih, sebagai anak salih yang pahalanya akan terus mengalir untuk mereka; 
7.    Menziarahi pusara mereka; 
8.    Tidak mencela dan mengungkit-ungkit keburukan mereka. 

Inilah gambaran dan bentuk-bentuk ketaatan pada kedua orangtua yang harus dibangun dalam kehidupan keluarga Muslim. Dengan kehidupan seperti ini, mereka bukan saja akan menjadi keluarga yang tenang dan tenteram (sakînah) serta penuh kasih sayang (mawaddah wa rahmah), tetapi sekaligus akan menjadi keluarga yang tangguh, yang mampu menghasilkan gerenasi terbaik sebagaimana yang pernah dilahirkan para sahabat Rasulullah saw. Pada saat yang sama, mereka pun akan menjadi tim yang tanggung dalam mengemban dakwah. Wallâhu Rabb al-Musta‘ân, wa ilayhi at-takilân. δ 
  
Catatan Kaki: 
1. HR Ibn Majah dari Abu Umamah.  
2.      HR Ahmad dari Anas; HR al-Hakim dari Muadz bin Anas.  
3.      HR Ahmad dan al-Hakim.  
4.     HR al-Hakim, al-Mustadrak, II/104.  
5.      HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.  
6.      HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibn Umar; HR al-Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar. 
7.      HR Ahmad dan QS al-Ankabut: 08.  
8. HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. 
9. Muhammad Nur, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li at-Thifl ma’a Namâdzuj atTathbîqiyyah min Hayâh as-Salaf as-Shâlih, hlm. 162.  
10. HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibn Majah. 
11. HR Ibn Huzaymah dari Abu Hurairah.  
12. HR Ibn Huzaymah dari Ibn Abbas.  
13. HR Ahmad dan al-Bukhari dari Abu Hurairah.  
14. HR al-Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqash.  
15. HR Abdurrazzaq dalam Mushannaf, XI/138.  
  
Untuk mengakomodasi keinginan sebagian pembaca al-wa’ie, redaksi menerima pertanyaanpertanyaan seputar Islam yang perlu dijawab. Karena keterbatasan ruangan, hanya pertanyaan-pertanyaan yang dianggap penting dan urgen yang akan dibahas dalam rubrik ini. 

OPINI : NGABALIN VS ROCKY GERUNG DALAM PEMBAHASAN "KITAB SUCI"

Kadang aneh melihat kasus yang terjadi kemaren sore saat menyimak TVONE mungkin sekitar 5.30 sampai jam 6.00 sore ada wawancara antara Pengacara Rocky Gerung dan Pengacara Pengacara yang melaporkan Rocky Gerung dalam kasus Kitab Suci..

Saya menilainya agak aneh dan nampaknya laporan tersebut sengaja memojokkan Rocky Gerung. Dan memaksakan Rocky Gerung harus menerima pendapat mereka bahwa Kitab Suci yang dimaksud adalah Al Qur'an.. Opini yang mencoba dibangun untuk menghukum Rocky Gerung dalam kasus penistaan Agama..

Kalau membandingkan kasus Ahok..Ahok itu menyebutkan salah satu surah dalam Al Qur'an dan sedangkan Rocky Gerung tidak sama sekali mengucapkan kata-kata Al Qur'an dalam kata-katanya dan hanya menyebutkan kitab suci. Tapi karena dasarnya kebencian terhadap Rocky Gerung maka akhirnya beberapa pengacara yang memasalahkan ini dan juga Ngabalin menganggap bahwa Rocky Gerung sudah menistakan Agama Islam karena menyebutkan kitab suci itu adalah Al Qur'an. Jadi mereka menyimpulkan sendiri atas opini mereka atas dasar kebencian dan telah dibuktikan dengan kata-kata Ngabalin kemaren.. Jadi istilahnya mereka menyebak diri mereka sendiri dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka berhasil menyebloskan Ahmad Dhani ke Penjara dan mereka akan buat lagi untuk menyebloskan Rocky Gerung ke penjara.. Tapi mereka lupa Rocky Gerung itu bukan Muslim. 

Kalau Rocky Gerung, sebagai seorang filsafat,  mengatakan bahwa kitab suci itu adalah fiksi, sesuatu yang bersifat khayal dan mungkin terjadi di masa datang..
Kalau saya sebagai orang beragama mengatakan bahwa kitab suci itu adalah Keyakinan dalam memahami Tuhan   
Kalau Pendekar Silat, sebagai orang  bahwa kita suci itu adalah buku silat 
Kalau Seorang Atheis mengatakan bahwa kitab suci itu adalah buku yang bersih dan yang berumur ratusan tahun dan diangapnya keramat.
Kalau orang yang lebay mungkin saja menganggap bahwa kitab suci itu adalah buku novel.

Saya dulu pernah dan sempat marah dengan teman saya yang menyatakan bahwa kitab suci itu bisa ditulis -tulis dan hanya berupa buku dengan kertas di dalamnya dan dia mengangap kitab suci itu sebagai sebuah buku diary dan berisi perjalanan hidup dia.. Sempat ribut sama kawan dan sempat musuhan juga dan di deletenya saya sebagai teman dia. Tapi lama-lama saya sadar bahwa tidak bisa kita memahamkan apa yang kita anggap itu adalah kebenaran tapi mungkin beda pemahaman dengan orang yang memahamkan sesuatu itu berbeda.

Kalau dianalisa dari pertikaian antara Ngabalin dengan Rocky Gerung mengenai kitab suci, Rocky Gerung itu tidak pernah menyatakan bahwa Al Qur'an itu fiksi dan dalam setiap dia bicara tidak pernah menyatakan bahwa kitab suci yang dia maksud itu Al Qur'an.. Rocky Gerung itu adalah Filsafat yang suka mengeluarkan Filosofi-filosofi yang mungkin membuat orang tidak nyaman karena berhubungan dengan kepentingannya. 

Jadi memahamkan kitab suci dalam benak masing-masing orang menjadikannya satu pemahaman tidaklah bisa..Dalam system demokrasi tidaklah bisa menganggap apa yang dia maksud itu sama dengan apa yang dikatakan dia.

Ngabalin dalam wawancara kemaren di TVOne mencoba membangun Opini di masyarakat dengan mengatakan seolah-olah kitab suci yang dimaksud oleh Rocky Gerung adalah Al Qur'an karene dia adalah orang beragama Islam. Tapi tidak semua orang beragama Islam menyatakan bahwa kitab suci yang dimaksud rocky gerung adalah sama dengan yang diungkapkan oleh Ngabalin. Saya menonton ILC dimana Rocky Gerung mengungkapkan kata-kata itu dan saya nggak pernah berpikir bahwa yang dimaksudnya adalah Al Qur'an karena dia adalah seorang filsafat dan juga non muslim. 

Ngabalin tidak hati hati dengan mengopinikan Kitab Suci yang dimaksud Rocky Gerung adalah Al Qur'an karena Rocky Gerung adalah seorang Guru FIlsafat..Jadi bagaimana juga kita memahamkan bahwa Kitab Suci yang dimaksud Rocky Gerung adalah Buku Kitab Silat..atau buku Aristoteles..

Delik aduan lemah ke polisi karena memang tidak ada kata-kata Al Qur'an yang diucapkan oleh Rocky Gerung dalam acara ILC yang menyatakan bahwa Kitab Suci itu adalah Al Qur'an. Kalau Kasus Ahok, Ahok mengucapkan ayat dalam Al Qur'an dan mengejeknya..

Acara wawancara sore kemaren itu di TV One, Seolah membuka kedok si pelapor bahwa mereka memang tidak suka dengan Rocky Gerung, terbukti dengan ucapan dari Ngabalin. yang walau secara tidak langsung menjadi juru bicara kepresidenan Jokowi walau mungkin dia hadir sebagai pribadi biasa.

Ngabalin harus menjaga kata-katanya karena efeknya akan buruk terhadap pemerintah Jokowi dan juga suara jokowi 

Hidup itu damai-damai aja, 

Note : Seorang Filsafat itu adalah orang-orang yang egois berdasarkan keilmuannya yang di peroleh dalam mempelajari kehidupan, keyakinan, sosial dan lainnya bersifat dunia dan kadang seorang filsafat bisa dekat dengan agama dan juga bisa tidak punya agama. Karena seorang filsafat itu memahamkan sesuatu itu berdasarkan keyakinan mereka sendiri dan berdasarkan logikanya sehari-hari maka kadang tidak masuk diakal orang lain.. Karena orang lain harus berpikir kembali atas kata-kata yang dikeluarkan oleh orang tersebut dan orang seperti ini sudah ada di zaman dulu.