Showing posts with label THE LOVES COME FROM THE STROMLO HILL. Show all posts
Showing posts with label THE LOVES COME FROM THE STROMLO HILL. Show all posts

Wednesday, January 30, 2019

AUSTRALIA VISIT FOR FUTURE - I WILL SURVIVE


“Maaf Mas, kopernya ketinggalan”, terlihat seorang pramusaji mendatangi diri Sueb saat sueb berjalan sambil memainkan hp nya setelah ia makan malam di sebuah restoran yang ada di dalam ruang tunggu.

“Oh maaf..terima kasih Mas,” jawab Sueb sambil berjalan menuju ke Ruang tunggu di F6 dimana lokasi ruang tunggu yang akan membawa Sueb ke Sydney Australia. Dan setelah Sueb masuk ke ruang tunggu, Sueb langsung menuju ke ruang sholat yang ada di basement untuk menunaikan sholat Isya nya.. Dan setelah itu sueb kembali ke ruang tunggu dan dicarinya tempat duduk yang nyaman.

“Ya udahlah berarti aku harus lupain Anisah”, guman Sueb dalam hati.

“Ach banyak cewek lain kok..ngapain dipikirkan lagi”, kata sueb untuk menenangkan dirinya lagi.

“Siapa tahu ntar di Australia bisa dapat cewek bule”, kata sueb dalam hati sambil tersenyum sendirian

“ Kak Evi…  Sueb dah di bandara sukarno hatta nich” dan sebentar lagi pesawat akan berangkat”

“apakah nanti aka nada yang menjemput sueb, kak?” tanya sueb ke kak evi.

Kak evi ini adalah kakak sueb yang tengah tugas belajar di Canberra, Australia tepatnya di Australian National University.

“Nanti yang jemput kamu bang Iwan”

“Nanti Bang Iwan menunggu sueb di depan pintu keluar bandara” jawab WA dari kak evi.

Bang Iwan ini adalah suami dari kak Evi dimana kak evi membawa keluarganya untuk bersama-sama menetap di Canberra, Australia selama Kak evi mengambil program Phd. Bang Iwan ini terpaksa mengalah untuk ikut istrinya ke Australia walaupun dia harus mengorbankan pekerjaan dia sebagai seorang piping design engineer di salah satu perusahaan besar di Kuala Lumpur.

“Baik kak, kalau begitu. Nanti sueb tunggu di pintu keluar bandara” jawab sueb

“nanti hubungi aja Bang Iwan di no. ……….. pakai WA mu karena di Airport Sydney  internetnya gratis sama seperti di Bandara Sukarno Hatta,” kata kak evi

“Siap kak…Don’t worry lah” jawab sueb

“ Maaf kak evi..pesawat kami segera mau berangkat, kami diminta naik pesawat udara ..Nanti sueb kontak bang iwan bila sudah tiba di airport Sydney
Pesawat Garuda mengudara sekitar pukul 11 malam dan langsung menuju ke Sydney Australia.

“kursinya nyaman juga yach, lumayan bisa untuk tidur nyenyak juga nich”, guman Sueb..merasakan empuknya pesawat yang dinaikinya

“Ada TV nya lagi , mantap banget”, guman Sueb..

Terlihat sueb ada kesulitan dalam mendengarkan suara dari TV yang di depan tempat duduknya. Sesekali Sueb kebingungan untuk mendengarkan dan itu Nampak oleh pramugari pesawat garuda dan akhirnya sueb didekati.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak? “tanya pramugari..

Dengan rasa malu, akhirnya sueb bertanya, bagaimana cara mendengarkan suara dari TV itu, Mbak”, tanya sueb sambil menunjuk ke TV yang ada di hadapannya.

“ Oh begitu..coba mas cari di bag depan mas, disana ada ear phone kayat walkman. Nah alat itu coba dicolokkan di situ” kata pramugari sambil menunjuk ke lubang yang ada di sebelah handle kursi.

Akhirnya sueb mengikuti arahan dari pramugari itu dan dia menemukan ear phone dan ujung dari ear phone itu dicolokkan ke lubang di handle kursi dan earphone nya di letakkan di telingannya

“Makasih Mbak…sudah bisa mendengarkan suara nich..”, kata sueb dengan malu-malu.


“Ada lagi yang bisa saya bantu, Mas?

Sueb menggeleng kepala,” nggak mbak, terima kasih.

“Baiklah bilamana perlu bantuan lagi silahkan tekan tombol bantuan diatas tempat duduk mas,” kata pramugari sambil menunjukkan beberapa tombol yang ada di atas tempat duduk sueb.

Akhirnya sambil tersenyum, pramugari itu berlalu dari tatapan mata sueb.


“Waduh..sudah mau jam 1 malam nich, pantas saja mataku sakit dan rasa mengantuk timbul terus menerus menandakan aku harus tidur nich” Guman sueb dalam hati dan selanjutnya sueb tertidur..

Sueb berangkat ke Australia menggunakan visa working holiday visa dan bermaksud ingin merasakan kerja di Australia dan juga dibantu dengan adanya kakaknya di Australia. Sehingga memudahkan dia untuk mendapatkan visa kerja. 

Padahal kakak sueb pernah cerita ke sueb kalau kerja yang ada untuk working holiday visa yaitu kerja-kerja casual  seperti kerja house keeping, cleaning service atau kerja-kerja lainnya.

Namun sueb mempunyai tekad bulat untuk bekerja di Australia walau seberat apapun pekerjaan itu dikarena sueb sudah mengetahui walau kerjanya berat tapi gajinya 20 dollar per jam. Lumayan juga untuk tabungan dan cari pengalaman di Australia. Sueb tidak bekerja dimana selepas berakhir kontrak kerja di perusahaan engineering konsultan di Kuala Lumpur. Baru dua minggu sueb putus kontrak karena dibilang project sudah mulai sepi. Dan sueb menerima keputusan itu.

THE LOVES COME FROM THE STROMLO HILL


Suasana sore itu di Jakarta tengah dalam kondisi panas terik tapi cenderung mau hujan dan Nampak dari kejauhan sebuah mobil melaju dengan rada kencang membelah jalan ibukota Jakarta…

“Mang…cepetan dikit …Ntar terlambat kita”, kata seseorang dari dalam taxi.

“Iya Mas …Don’t worry , saya sudah usaha nich tapi saya nggak berani jalan diatas 80 km/jam. Saya merasa tak nyaman dan khawatir tak mampu mengontrol kendaraan saya ini”, jawab si sopir taxi

“Ya udah mang , tak apalah yang penting selamat lah dan keluarga mamang bahagia”, kata penumpang tadi..

“Memangnya pesawat mas jam berapa yach?”

“kok buru-buru amat yach?” tanya Pak Supir..

“Pesawat nya sekitar jam 11 malam lah, Mang Nanang”, kata penumpang taxi itu dan rupanya si penumpang kenal dengan sopir taxi tersebut.

“Owala..Mas Sueb nich bagaimana kirain 2 jam lagi pesawatnya?”

“Inikan masih jam 5 sorean dan sekitar 30 menit lagi kita sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dan ngapain buru-buru Mas“ kata Pak Supir yang ternyata juga mengenal penumpangnya yang bernama Sueb.

Sambil tersenyum kecut , akhirnya sueb menjawab bahwa dia belum pernah mengadakan perjalanan ke luar negeri dan khawatir terlambat pada proses antrian di pelaporan pesawat dan proses imigrasi di Bandara.

“Oh Begitu eb,? “

“Tenang sajalah khan masih lama. Nanti mamang akan antar sueb di Terminal G dimana pesawat garuda tujuan luar negeri biasa bersandar.”

“Nanti sueb tinggal masuk ke dalam dan check schedule pesawat dan bilamana Boarding Open , Sueb masuk aja ke dalam ruangan untuk lapor tiket dan setelah itu baru sueb ke Imigrasi dan setelah semua beres, Sueb langsung masuk ke ruang tunggu”

“Tapi nanti tunjukkan saja passport dan visa nya juga,” kata mang nanang menjelaskan panjang lebar.

“Ya Mang.., makasih diingatkan”, jawab Sueb.

Sekitar 40 menit, taxi berjalan menuju ke bandara dan sedikit ada kemacetan di lampu merah sehingga mobil berjalan agak tersendat-sendat. Akhinrya tiba jualah di Terminal F Bandara Soekarno Hatta. Taxi kemudian menepi untuk mencari posisi luang untuk menurunkan penumpang.

“Mang Nanang, berapa argonya”, tanya Sueb sambil mau mengambil dompet dari kantong celananya..

“Ach..kau bisa aja Sueb..Nggak usahlah..”

“Ayahmu semalam sudah kasih uang ke Mang Nanang untuk ngedrop Mas Sueb di Bandara”, Jawab Mang Nanang.

Rupanya Mang Nanang kenal dengan Ayahnya Sueb. Sehingga pun Sueb tidak jadi membayar ongkos taxi yang dikemudikan oleh Mang Nanang, Pamannya Sueb..

“Kalau begitu, Makasih Mang Nanang”, kata Sueb sambil memberi salam.

“Berani kamu di bandara sendirian?”

“Kalau nggak berani , ntar mamang temani kamu di sana”

“Tapi mamang mau cari parkir dahulu dan mamang temani kamu sampai kamu masuk ke ruang tunggu”, kata mang nanang lagi. Sambil melihat memperlihatkan ke Sueb bahwa waktu pada saat itu sekitar jam 6 lewat 15 menit.

“Nggak usahlah mang..Sueb bukan anak kecil lagi..

“Lagi pun Sueb bisa nongkrong di Lounge”

 “Ini pun dah masuk maghrib..”, kata Sueb menjelaskan.

Mang Nanang mash mengganggap Sueb masih anak kecil saja dimana sejak kecil Sueb dekat dengan pamannya itu termasuk mengasuh Sueb karena Ayah Sueb sibuk kerja di kebun. Dan Sejak SMP, Sueb sudah sekolah di Kota. Jadi selama Sueb di kota bersama kakak sueb diasuh oleh mamang sueb.

Setelah mang nanang berlalu dari hadapan sueb. Sueb pun masuk ke dalam terminal Bandara..
Selepas Sholat Maghrib dan berdoa agar diberi kemudahan dalam penerbangan ke Australia. Sueb melihat jam di tangannya dan menunjukkan pukul tujuh malam. Ada rasa kecewa terlihat di wajah Sueb melihat ke Hp nya bahwa tidak ada satu sms pun yang hadir di dalam layar hp nya..Padahal dia berharap ada sms yang masuk dari seseorang yang diharapkannya..

Seseorang itu adalah wanita yang bernama Anisa, tapi nyatanya memang tak ada, sampai akhinya Sueb masuk ke dalam bandara untuk issued tiket di Jam Delapan Malam, sms dari Anisah tidaklah masuk, apalagi orangnya..Setelah proses imigrasi selesai dan Sueb masuk ke ruang tunggu. Sueb sudah memasrahkan diri bahwa Anisah tidak akan pernah hadir untuknya kembali.

Anisah adalah pacar Sueb yang tinggal di Jakarta dan Sueb pernah melakukan kesalahan dimana saat di kerja di Kuala Lumpur, Sueb dekat dengan seorang yang bernama Suaidibah. (Baca Buku “Cinta Ibarat Kereta Api”…red). Dan Anisah akhirnya tahu kedekatan Sueb dengan Suaidiba, gadis Malaysia. Padahal kedekatan mereka hanyalah sebagai teman dan itu tidak bisa dimengerti oleh Anisah..

Sueb sudah berusaha untuk menjelaskan ke Anisah bahwa Suaidiba bukan pacarnya tapi Anisah tidak juga mau mengerti dan sampai suatu malam. Sueb sengaja mampir ke rumah Anisah untuk pamitan kalau dia mau berangkat ke Australia untuk bekerja di sana. Namun apa yang dilihatnya ketika itu dilihatnya Anisah tengah duduk di ruang tahu dengan seorang cowok yang tak seganteng sueb. Tapi nampaknya disukai oleh Anisah..Dari sikap dan gerak tubuh Anisah memperlihatkan seperti itu. Anisah tidak salah tingkah dengan Sueb dan malah cuek saja melihat kedatangan Sueb..

“Kenalkan ini Steven” kata Anisah

“Steven, kenalkan ini Sueb”, kata Anisah lagi..

Ada rasa sakit hati di dada Sueb kala itu dan Sueb mencoba sabar dan tenang menghadapi cobaan itu..

“Hai Steven..Saya Sueb”, sambil menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Steven sambil kemudian duduk.

“Oh yach ..Ada apa yach Sueb?” tanya Anisah memecah kesunyian

“Oh nggak , sebenarnya saya mau pamitan ke kamu ,


 kalau besok malam, saya mau berangkat ke Australia jam 11 malam”

“Mau cari kerjaan di Sana kebetulan Kak Evi ada di sana”, kata sueb.

“Oh okelah kalau begitu, Selamat Jalan Aja yach”, jawab anisa cuek dan sambil bercerita dengan Steven..

Setelah mereka mengobrol bersama dan Nampak sueb sedikit risih dengan sikap Anisa ke Steven, dan akhirnya Sueb pamit karena harus beres-beres dahulu. Dengan kesedihan yang mendalam akhirnya Sueb meninggalkan rumah Anisa dan berlalu dari hadapan mereka berdua.

Nampaknya kata putus sudah kekal dihati anisa dengan pembuktian dihadapan sueb barusan.